Jejak Langkah Karir Para Pecatur

Tak bisa dipungkiri, olahraga otak yang kita gemari bersama yaitu catur semakin marak di negeri ini. Saat ini telah banyak bermunculan yunior-yunior catur yang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini mungkin disebabkan karena semakin banyak para muda yang mulai menekuni catur, lebih banyak daripada masa-masa sebelumnya. Juga semakin banyak sekolah-sekolah catur yang didirikan baik yang nirlaba atau yang profesional/bisnis. Kesadaran orang tua bahwa catur itu 'menguntungkan' juga turut andil dalam kemajuan catur di tanah air. Kemajuan teknologi informasi/komputer tak pelak juga mempercepat ABG-ABG ini menuju level catur yang tinggi dengan sangat cepat. Sebagai contoh, di luar negeri telah banyak terbit Grandmaster-Grandmaster muda usia yang jauh lebih banyak dan lebih muda daripada era-era terdahulu. Yang paling menjadi perhatian dunia saat ini adalah pecatur muda yang sangat berbakat GM Magnus Carlsen (usianya belum genap 20 tahun), yang secara gemilang menjuarai turnamen catur sangat elit di dunia, yaitu 2nd Pearl Spring yang digelar di negara tirai bambu, di kota Nanjing China dan mampu menembus rating di atas angka keramat 2800 per 1 Nopember 2009.

Sekedar info, di dunia ini hanya ada 4 manusia saja yang elo ratingnya pernah berada di atas 2800, yaitu GM Garry Kasparov, GM Veselin Topalov, GM Viswanathan Anand, dan GM Vladimir Kramnik. Para pengamat ada yang memprediksi Carlsen akan bisa menjadi No.1 di dunia di masa mendatang. Apalagi Carlsen sekarang telah mulai dilatih Kasparov. Saya pikir menarik sekali membahas jalan cerita dan jejak para pecatur ini yang karenanya memotivasi saya mempostingnya dalam kesempatan ini. Kita ulas bagaimana para pecatur ini timbul dari kecil sampai menjadi Grandmaster.

Di Asia juga bertebaran para bintang muda catur mulai dari China dengan Bu Xiangzhi, Ni Hua dan Wang Hao. Di India muncul pecatur belia macam Parimarjan Negi. Di Asia Tenggara sekara juga dikuasai pecatur muda, misalnya GM So Wesley (Philliphine), dan GM Le Quang Liem (Vietnam) dan lain-lainnya.

Di tanah air kita pun tak ketinggalan juga telah bermunculan bibit-bibit catur yang 'berpotensi' menjadi pecatur besar. Seperti yang telah kita ketahui bersama kita telah memiliki pecatur-pecatur belia yang sukses misalnya GM Susanto Megaranto dan GMW Irene Kharisma Sukandar, meski keduanya gagal lolos di Piala Dunia 2009 di Kanty-Mansysk Rusia. 2 Jawara catur muda ini dibayangi anggota 'The Dream Team' seperti MI Taufik Halay, MI Farid Firmansyah, dkk. Dan 'The Dream Girl' seperti MFW Dewi AA. Citra, WCM Medina Warda Aulia, WCM Chelsie Monica, dan teman2nya.

Saat ini di Indonesia saya lihat catur selain diajarkan di klub-klub dan sekolah catur, juga telah diajarkan sebagai ekstra kurikuler di sekolah-sekolah umum. Catur saat ini telah banyak dipelajari oleh anak-anak mulai usia yang sangat belia di bawah 8 tahun. Semakin dini anak belajar catur, tentu sangat baik sekali bagi masa depan 'karir' si anak di catur. Kesadaran orang tua akan pentingnya belajar catur untuk meningkatkan kinerja otak si anak (tidak melulu harus juara), juga semakin memperbanyak anak-anak yang menekuni catur.

Pada mulanya, mungkin si kecil belajar dari melihat-lihat kakak-kakaknya atau orang tuanya bermain kayu-kayuan yang digerak-gerakkan dengan tangan. Atau mungkin juga melihat dekat rumah ada warung/gardu catur yang setiap hari dipenuhi dengan orang-orang yang bermain catur. Tak sedikit pula si anak ini memang 'sengaja' diajari oleh kakak atau orang tuanya untuk bermain-main dengan catur. Bahkan ada pula yang langsung dimasukkan ke Sekolah Catur atau private catur.

Anak-anak ini ada yang tidak tertarik atau cuek sama sekali dengan catur. Tapi menurut pengamatan saya, lebih banyak yang tertarik dan mau bermain dengan kayu/plastik kecil yang berbentuk orang-orangan ini jika berada di lingkungan catur, hanya kadang si ibu ada yang tidak setuju, sehingga minat catur anak 'dihentikan'. Buat apa belajar catur? nanti sekolahnya tambah bodoh, begitu bagi yang tidak tahu. Tapi ada beberapa di antara mereka yang mencengangkan karena kecerdasannya dan bakatnya yang sangat luar biasa pada catur. Alkisah di kota Baku-Rusia (sekarang masuk dalam pecahan dari Rusia yaitu negara Azerbaijan), ada anak laki-laki kecil berusia sekitar 5 tahun yang kala itu mencengangkan orang tuanya karena mampu memecahkan problem catur 3 langkah mat, yang sulit, padahal si ayah dan orang-orang dewasa di daerah tak mampu menyelesaikannya. Kemudian melihat bakat yang hebat ini, si ayah memasukkan si kecil di sekolah catur Botwinnik. Para pembaca mungkin bisa menebak siapa si anak laki-laki kecil ini. Ya, dia ini adalah Gary Kasparov, Grandmaster catur Rusia, mantan juara dunia catur yang dianggap merupakan salah satu pecatur terbesar sepanjang masa!

Setelah belajar main catur, baik yang hanya asal/awam maupun yang serius (masuk klub, diajari ayahnya yang pecatur, dikursus private oleh master, atau belajar di sekolah catur), anak-anak ini ada yang menonjol bakatnya dan mulai mampu mengalahkan kakak-kakaknya. Meski juga tidak sedikit dari si anak ini yang lambat kemajuan caturnya karena terbukti memang tidak berbakat, tidak mempunyai kemauan yang kuat (misal belajar catur karena didorong oleh ambisi orang tuanya), atau memang karena tidak belajar catur 'dengan benar'. Sejatinya si anak-anak yang tidak berbakat catur ini, tidak perlu berhenti catur. Karena catur bisa dijadikan sebagai 'alat' untuk mencerdaskan otak si anak. Ujung-ujungnya bisa MENAIKKAN NILAI/RANGKING DI SEKOLAH.

Kemudian mereka yang berbakat ini mulai ikut pertandingan catur, baik itu home turnamen, lawan sebayanya, atau bahkan sudah diikutkan ke Kejuaraan resmi seperti Kejurda/Kejurprov. Saat ini catur untuk anak-anak telah mempunyai banyak 'saluran' agar si anak ini bisa berkembang caturnya. Pertama, ada Kejurda/Kejurprov yang biasanya dikelompokkan sesuai usianya (Di bawah 8 tahun/yunior G, 8-10 tahun/yunior F, dan seterusnya) yang mana nanti kalo menang akan mewakili provinsinya di Kejurnas. Di Kejurnas ini, si anak bahkan berkesempatan meraih gelar master langsung (MP/MPW untuk yunior B-G dan runner-up yunior A dan MN/MNW untuk yang juara di yunior A). Yang menang Kejurnas, seringkali diberi kesempatan oleh Percasi untuk mengikuti turnamen ke luar negeri untuk menguji dan meningkatkan prestasinya (untuk yang senior bahkan bisa ikut Olimpiade).

Saluran kedua adalah POR SENI (Pekan Olahraga dan Seni), yang biasanya diperuntukkan untuk anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar. Saluran ketiga adalah PorProv (Pekan Olahraga Provinsi), yang mana mempertandingkan anak-anak usia di bawah 20 tahun. Yang menang PorProv bisa diikutkan PON (Pekan Olahraga Nasional) sesuai kebijakan Pengprov masing-masing. Yang menang PON bisa diikutkan ke Kejuaraan Dunia Antar Sekolah, Kejuaraan Kelompok Umur Asia, dan lain-lainnya. BONUS Medali Emas di PON saya lihat biasanya LUMAYAN BESAR!

Saluran ketiga adalah O2SN yang biasanya juga hanya untuk anak-anak yunior saja. Yang menang tingkat daerah/provinsi akan diikutkan O2SN tingkat Nasional. Dan jika menang di O2SN, bisa dikirim ke kejuaraan catur internasional kelompok umur di luar negeri, yang memang rutin diadakan setiap tahun, dan lain-lain. Menurut pengamatan saya, saat ini DIKNAS sudah ikut terlibat dalam turnamen-turnamen catur untuk anak-anak yunior ini. Sehingga sertifikat hasil menang di turnamen-turnamen ini, bisa 'dijual' ke sekolah-sekolah yang lebih tinggi karena ada 'thok/cap' dari DIKNAS.

Bagi anak-anak yang berprestasi caturnya, saya lihat penghargaannya 'lumayan menggiurkan'. Di samping kebanggaan sebagai orang tua, kebanggaan sekolah, kebanggaan daerah, kebanggan negara, ada yang bisa diterima di sekolah yang lebih tinggi 'tanpa tes'. Ada yang mendapatkan bonus-bonus hadiah, sampai beasiswa bagi anak-anak yang orangtuanya tidak mampu, bahkan saya lihat sendiri ada yang sampai dijadikan anak asuh segala. Bisa berkesempatan 'Jalan-jalan' ke kota-kota lain di Indonesia, bahkan dunia tanpa biaya dan lain-lainnya. Oleh karena itulah, bagi pembaca yang anaknya belajar catur (apalagi yang berbakat dan berminat besar), SERIUSLAH mendukung anak anda agar bisa BELAJAR CATUR dengan TOTAL, agar anak anda bisa berprestasi. Untuk memenangkan persaingan, biasanya dibutuhkan KERJA KERAS, KEMAUAN KUAT, DUKUNGAN EKSTRA dari orang-orang terdekat, METODE BELAJAR CATUR YANG EFEKTIF, PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI/KOMPUTER, dan KESEMPATAN SPARRING yang memadai dengan kuantitas dan kualitas lawan yang baik. Jelas-jelas 'imbalan' ini (misalnya Bea Siswa) akan sangat membantu orang tua si anak didik dari segi KEUANGAN.

Setelah memasuki kelompok usia SENIOR (di atas 20 tahun), selain tempur di ajang KEJURNAS si pecatur yang belum berhasil meraih gelar di Kejurnas, bisa memburu gelarnya ini di Turnamen Catur BERKATEGORI yang telah mendapatkan ijin dari PB Percasi. Untuk yang bukan Kejurnas ini, gelar tidak bisa diperoleh langsung (biasanya harus mendapatkan beberapa norma master lebih dulu - 1x turnamen kalo nilainya memenuhi syarat dapat 1 norma master), dan harus memenuhi ketentuan dari PB Percasi baik untuk mencapai jumlah partai yang dimainkan maupun jumlah nilai yang berhasil diraih. Turnamen semacam ini bisa diikuti baik di turnamen-turnamen di daerah seperti misalnya Walikota/Bupati Cup (yang berkategori Percasi), maupun turnamen besar yang rutin diadakan seperti Japfa Chess Festival, Telkom Open, Lampung Open, dan lain-lainnya.

Di antara pecatur-pecatur ini ada yang mandeg atau mengalami stagnasi karena berbagai sebab. Misalnya karena sudah jarang berlatih/sparring atau mengikuti turnamen, misal karena sibuk kerja. Bisa juga karena sudah puas diri dan merasa sudah tinggi levelnya sehingga malas belajar. Atau yang saya amati PALING BANYAK adalah TIDAK TAHU BAGAIMANA CARANYA MENINGKATKAN DIRI/LEVELnya. Kekurangan sparring manusia yang kuat, juga bisa menjadi gara-garanya. MOTIVASI yang menurun karena merasa 'KURANG MENDAPATKAN APA-APA' dari catur bisa menjadi sebab pula, sehingga merasa frustasi. ADA LAGI yang PENYEBAB LAINNYA?

Bagi yang mau NGOTOT belajar terus dan total berusaha terbukti mampu meningkatkan levelnya umumnya tidak sulit mendapatkan gelar MP/MPW/MN/MNW. Setelah sukses meraih gelar master tingkat nasional, seyogyanya berusaha meraih gelar yang lebih tinggi berlevel internasional (MF/MI/GM) dan menaikkan ratingnya. Kalo ikut turnamen internasional akan dapat rating ELO FIDE (internasional). Sedangkan kalo ikut di turnamen nasional berkategori Percasi yang dihitung Rating Nasional atau yang sering disebut DRN. Untuk meraih gelar MF bisa ikut ke Kejuaraan Catur di beberapa negara Asia Tenggara seperti misalnya Kuala Lumpur Open, Dato Tan Malaysia Open, Singapore Open, Philliphine Open, dan lain-lainnya. Tentu tidak mudah mendapatkan gelar MF/MI ini di sini, mengingat pesertanya biasanya banyak pecatur topnya, yang bahkan bergelar Grandmaster. Setelah pecatur meraih gelar MF, barulah di senior ini mulai merasakan jerih payahnya. Pecatur yang sukses meraih gelar MF dengan cara ini, misalnya MF Khairul Anam (asal Kab.Probolinggo-Jawa Timur). Selain itu gelar internasional juga bisa dicapai di ajang turnamen catur resmi internasional seperti Olimpiade Catur.

Sampai di sini, jika kita merasa bosan cari uang dari catur, menurut pengalaman saya, pecatur berprestasi akan MUDAH MENDAPATKAN KERJA (misalnya diangkat menjadi pegawai negeri sipil). Banyak saya lihat teman-teman catur saya yang mendapatkan KERJA LAYAK gara-gara pinter catur. Selain itu koneksi ke para pejabat dan bos-bos juga lebih gampang. Dan diharapkan bisa lebih cepat mendapatkan pekerjaan tetap.

Untuk turnamen kategori Percasi, pecatur yang bergelar internasional seringkali mendapatkan undangan sebagai persyaratan untuk memenuhi jumlah rata-rata rating peserta dan keberadaan pecatur dengan gelar Internasional. Dan karena diundang, maka sang master ini mendapatkan 'Uang Tampil' (yah besarnya sih gak seberapa, tapi daripada gak ada). Mereka yang bergelar MF ke atas ini, seringkali juga dipercaya untuk mengajar private catur dan di sekolah-sekolah catur. Bagi pecatur yang tidak NGOTOT TERUS untuk BELAJAR meningkatkan LEVELNYA, saya lihat banyak yang MENTOK atau MACET prestasinya (kalo tidak mau DIBILANG MENURUN), dan sulit meraih gelar yang lebih tinggi. Boro-boro jadi GM, gelar MI saja sudah setengah mati meraihnya.

Dan jalan yang harus ditempuh untuk cari gelar MI/GM ya harus ikut event catur di luar negeri (karena di Indonesia teramat jarang turnamen internasional yang bisa menelorkan gelar MF ke atas). Yang paling mudah ya ikut di Asia Tenggara dulu. Umumnya kalo bisa Juara 1 di event-event catur di kawasan ASEAN ini, bisa meraih gelar MI/GM (norma). Setelah di ASEAN sukses, bisa ikut turnamen di kawasan ASIA (India, China, Dubai, Open dll.) dan AUSTRALIA. Baru setelah si pecatur sukses meraih gelar GM (Grandmaster), pecatur ini bisa mulai menggantungkan hidupnya dari catur secara penuh (seperti Pak Utut, Susanto Megaranto, H. Ardiansyah, dll). Tapi ya jangan dibandingkan kesejahteraan pecatur-pecatur ini dengan olahraga lainnya (misal Sepakbola). Jalan dari MI ke GM ini terbukti benar-benar sulit, lama dan melelahkan... Saat ini Indonesia sudah memiliki 12 MI, tapi sangat sulit sekali dari MI-MI ini untuk jadi GM. Misalnya dari Jawa Timur ada MI Ronny Gunawan yang telah meraih MI sudah sangat lama. Ada lagi senior dari DKI MI Denny Juswanto juga macet gak bisa naek ke GM. Seperti telah kita ketahui bersama kita telah kehilangan 2 orang GM yaitu Almarhum GM Ruben Gunawan dan Almarhum GM Edhi Handoko. MI Tirto juga ngotot dan berusaha maksimal untuk meraih GM, tapi rupanya jalan terang belum terbuka. Semoga yang baru-baru macam MI Irwanto Sadikin, MI Taufik Halay dan yang lain bisa lebih cepat meraih GM. Amiin.

Setelah meraih gelar Grandmaster, langkah berikutnya meraih ELO Rating Grandmaster Super dengan capaian angka 2600 ke atas. Pecatur Indonesia yang pernah meraih capaian ini adalah GM Utut Adianto (saat ini beliau menjadi anggota DPR dari PDI-P, tapi mungkin kayaknya masih menangani catur, semoga Pak Utut bisa berkiprah di Dewan untuk memajukan catur Indonesia). Pecatur GM kita lainnya GM Susanto Megaranto, agaknya kesulitan meraih ELO Rating di atas 2600 dan sampai saat ini. Semoga Dik Susanto ini tambah semangat dan NGOTOT bin TOTAL TAL, kita dukung agar di kesempatan mendatang bisa mencapainya. Efek dari mempunyai rating di atas 2600 alias masuk kelompok GM Super ini, mungkin agar mendapatkan kesempatan dan undangan untuk ikut event catur bergengsi di negara-negara Eropa dan dunia lainnya. Dan ini tentunya akan memecah kebuntuan dan membuka lebar-lebar ke jenjang karir catur yang lebih tinggi. Perlu dicatat bahwa semakin tinggi ELO Rating pecatur-pecatur kita, maka rangking negara catur dunia juga semakin meningkat. Saat ini Indonesia, masih di kisaran peringkat 50 besar dunia (perangkingan biasanya diambil dari rata-rata dari 10 pecatur dengan ELO Rating tertinggi). Semakin tinggi rangking kita, tentu saja akan semakin 'baik' harga diri kita sebagai bangsa di mata dunia di bidang catur. Badan yang mencatat rangking ini adalah FIDE, yang setiap saat bisa kita akses di situs resminya di alamat...

Selain ini RAIHAN yang perlu diperjuangkan tentunya adalah MASUK/LOLOS KE KEJUARAAN DUNIA dan PIALA DUNIA tahunan. Kemudian MENDAPATKAN RANGKING TINGGI DI OLIMPIADE CATUR. MERAIH MEDALI EMAS DI SEA GAMES dan ASIAN GAMES juga patut diperjuangkan. BONUS-BONUS UANG di level ini SANGAT BESAR dan terasa bagi kesejahteraan ATLIT CATUR (bonus sama dengan olahraga lainnya). Sampai saat ini, untuk kelompok SENIOR, harus diakui bahwa para pecatur masih belum bisa berbuat banyak di percaturan internasional. Tapi untuk KELOMPOK YUNIOR, rupanya kita bangsa Indonesia patut berbangga dengan prestasi adik-adik kita yang pernah meraih JUARA DUNIA CATUR (KELOMPOK UMUR) seperti yang pernah diraih oleh CM Aston Taminsyah, CM Masruri Rahman, WCM Medina Warda Aulia, dan semoga akan disusul oleh pecatur-pecatur yunior lainnya. Semoga...

Saya pernah melihat di Televisi MENPORA Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 1, kalo saya tidak lupa Yth. Bpk. Adhyaksa Dault pernah menyatakan akan mengangkat pegawai negeri sebanyak 1500 orang dari atlit berpresasi di tahun 2010 (termasuk dari atlit catur tentunya, kalo ada), Semoga kebijakan ini diteruskan oleh MENPORA KIB Jilid 2..., syukur-syukur bisa ditingkatkan.

Wah... sudah banyak ya tulisannya... nti disambung lagi aja...

Demikian dulu, Kisah Jejak Para Pecatur... kok rasanya tulisan di posting ini ada yang kurang ya... apa ya? Ya sudah nanti disusulkan saja...

GENS UNA SUMUS.

Related Posts:

Loading...
Comments
0 Comments